Setiap jam 4 pagi biasanya Bapak sudah bangun dan siap-siap untuk sholat Shubuh. Setahu saya Bapak tidak pernah secara langsung membangunkan saya dan memerintahkan untuk sholat Shubuh. Apalagi dengan nada uring-uringan ataupun marah-marah, sama sekali tidak pernah terdengar dari Bapak. Saya yang masih kedinginan tidur ngruntel berselimutkan sarung, lamat-lamat hanya mendengar dan memperhatikan kebiasaan Bapak membuka semua pintu jendela rumah sambil mendendangkan pujian tasbih dan zikir. Setelah itu Bapakpun juga mengumandangkan azan Shubuh sendiri, diteruskan dengan pujian lagi. Sebagai anak, akhirnya sayapun merasa malu sendiri untuk tidak ikut bangun mengambil air wudlu dan berjamaah sholat Shubuh dengan Bapak, walaupun terkadang ada juga rasa malas. Methodologi mendidik dengan cara bukan perintah secara langsung inilah yang saya perhatikan dilakukan Bapak secara konsisten, dan saya harus belajar banyak untuk hal itu. Tetapi kalau methodologi mengajar (tolong bedakan dengan mendidik) Bapak sangat correct dan keras. Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya bagaimana kerasnya Bapak kalau lagi ngajar ngaji. Khususnya kalau sudah urusan makhraj bacaan, weleh weleeh bisa terampun-ampun rasanya.
Pada waktu saya kelas 1 SMP, saya punya saudara angkat bernama Muhdar Alhadar (panggilannya Bobby), putera saudara angkat Bapak, Yehama Alhadar ( Sorry Bob kalau saya terpaksa cerita kisah ini ). Karena Bobby ini anak dari keluarga mampu dan mungkin kurang perhatian, maka bandelnya bukan main ( he he he, walaupun saya sudah termasuk anak bandel, tetapi ternyata ada yang lebih bandel lagi nih ), sehingga dititipkanlah ke keluarga kami. Bobby ini kebetulan umurnya sebaya saya, tetapi sekolahnya masih 3 kelas dibawah saya. Setiap hari Bobby ini kerjanya maiiin saja, nggak mau belajar apalagi ngaji. Hobbinya mulai nyewa buku komik, nonton bioskop, berenang di sungai, dan ngumpet-ngumpet sering merokok. Saya nggak habis pikir, anak kecil tetapi duitnya kok nggak ada habis-habisnya.
Di rumah Bobby tinggal sekamar dengan saya. Lama kelamaan tidak sadar pengaruh Bobby merasuk ke saya juga. Diam-diam saya ikut baca komiknya yang seabreg, ikut nonton bioskop karena selalu dibayarin Bobby, dan sering juga ikut ngumpet mengisap rokok gratisan. Akibatnya, perhatian saya ke pelajaran sekolah menjadi terbengkalai. Terkadang juga mbolos sekolah, karena ikut-ikutan Bobby berenang di sungai Gabus seharian. Nah, akibatnya waktu penerimaan rapor kenaikan ke kelas 2 SMP, rapor saya menyala merah, benar-benar jeblok banget nilainya. Beruntung saya masih naik kelas juga, walaupun pada batas titik kritis.
Pada waktu penerimaan rapor kenaikan kelas, Bapak datang sendiri ke sekolahan saya. Saya sudah mikir, Bapak pasti akan memarahin saya nanti. Sepulang dari sekolah, saya diboncengin sepeda Bapak sambil siap-siap untuk mendengar kemarahan Bapak. Ternyata yang saya tunggu-tunggu tak kunjung terjadi. Malahan saya diajak mampir dulu makan lontong tahu, sambil Bapak pelan-pelan cerita tentang anak temannya yang miskin ternyata berhasil menjadi dokter. Diceritakan bagaimana perjuangan temannya Bapak itu untuk menyekolahkan anaknya sampai berhasil. Sedikitpun tidak terbersit sikap marah Bapak kepada saya. Nggak tahu sepulang kerumah saya punya perasaan malu sekali terhadap prestasi akademis saya dan berniat untuk memperbaikinya. Sejak saat itulah, alhamdulillah juara kelas rasanya tidak pernah lepas dari saya lagi. Bu Guru Ilmu Ukur pun sampai setengah nggak percaya atas lompatan prestasiku.
Metodologi mendidik yang diterapkan Bapak ini ternyata cespleng. Walaupun ternyata tidak mudah untuk menerapkannya, karena dibutuhkan adanya kesabaran dan tentunya keteladanan. Setelah lebih dari tiga puluh tahun saya nggak pernah ketemu Bobby, pada waktu ketemu lagi yang dia ceritakan adalah respeknya kepada almarhum Bapak. Saya juga nggak tahu bagaimana cara treatment Bapak ke Bobby waktu itu. Yang jelas sekalipun saya belum pernah lihat Bapak marah ke Bobby. Mudah-mudahan ini bisa menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi kita semua.
Sekitar tahun sembilah puluhan secara tidak sengaja saya masih punya kesempatan ketemu lagi sama Bu Bidan Peni, setelah lebih dari dua puluh lima tahun tidak pernah ketemu lagi. Ketemunyapun gara-gara waktu pulang liburan lebaran bersama keluarga, saya ingin coba menginap di losmen yang bangunannya betul-betul bangunan panggung joglo dari kayu jati tua peninggalan jaman Belanda, yang ternyata masih kepunyaan keluarga Bu Peni. Dan, beliau kebetulan ikut mengawasi pengelolaan losmen tersebut. Walaupun Bu Peni sudah kelihatan sepuh, namun tetap kelihatan sisa guratan wajah ayunya. Bu Peni pun sudah lupa waktu saya ceritakan kalau waktu kecil saya pernah sekali membantu beliau, ikut menolong proses Ibu melahirkan. Suatu peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan.
Sepengetahuan saya, saat itu Bu Peni mungkin adalah satu-satunya bidan bersertifikat resmi di kota Blora. Jadi, beliau bukanlah bidan sekelas dukun paraji. Kemana-mana dengan mengayuh sepedanya yang mengkilap dan seragamnya yang putih panjang dikombinasi dengan kain kebaya batik, Bu Peni siap melayani ibu-ibu yang akan melahirkan. Saya kira generasi saya di Blora rata-rata mengenal Bu Peni, apalagi kelihatannya keluarga beliau adalah turunan ningrat di Blora. Hal itu juga tercermin dari penampilan beliau yang sangat anggun, ayu dan selalu rapi ( nggak salah kalau diberi nama ‘Peni’ ).
Suatu hari, kebetulan saat itu Bapak sedang pergi keluar kota, tiba-tiba Ibu sambil memegangi perutnya memanggil-manggil saya untuk segera menemui Bu Peni agar dibawa kerumah. Saya lihat dikaki Ibu sudah ada tetesan air ketuban. Segera tanpa pikir panjang saya kayuh sepeda menuju rumah Bu Peni di Mlangsen, dan memintanya segera datang kerumah karena Ibu mau melahirkan. Bu Penipun dengan sigap bersama saya datang kerumah membawa seluruh perlengkapannya.
Masya Allah, sesampai dirumah kami lihat Ibu sudah terlentang di tempat tidur, merintih kesakitan, dengan darah bening disekitarnya. Karena dirumah satu-satunya selain Ibu dan Bu Peni hanya ada saya, dan kondisi Ibu sudah kritis, maka Bu Peni minta saya untuk membantu beliau. Tidak ada lagi waktu untuk memanggil tetangga sebelah untuk ikut membantu. Inilah pengalaman yang luar biasa bagi saya, yang susah rasanya untuk diceriterakan. Dan, Alhamdulillah proses kelahiran salah satu adik saya berjalan dengan lancar. Mungkin karena peristiwa inilah, kenapa saya selalu merasa tidak punya keberanian untuk melihat secara langsung proses kelahiran kelima anak saya. Saya selalu bilang ke isteri saya kalau dokter tidak mengizinkan saya berada didalam ruangan. Sorry yeeee.
Bayangkan, dengan keterbatasan peralatan bantu saat itu, saya yang masih berusia sekitar 12 tahun harus membantu sendirian segala tetek bengek untuk memperlancar prosesi kelahiran seorang anak manusia. Mulai dari menyiapkan air hangat di baskom, menerima ketuban dari Bu Peni, membantu keluar mrocotnya sang jabang bayi, sampaipun ikut membersihkan darah disekitar area tempat tidur tempat Ibu melahirkan, sambil mendengarkan rintihan kesakitannya Ibu. Beruntung saya mempunyai kekuatan dan keberanian untuk membantu sepenuh hati apa yang dikerjakan oleh Bu Peni, yang sangat cekatan menjalankan profesi dan pengabdiannya. Subhanallah, Allah Maha Besar.
Mudah-mudahan peristiwa ini selalu mengingatkan saya besarnya pengorbanan seorang Ibu dan juga besarnya arti nyawa seorang anak manusia. Allahumma Amien.
Pagi sekolah di sekolahan umum, siang sampai sore sekolah di madrasah diniyah. Itulah pada umumnya kegiatan kurikuler anak-anak dari keluarga Muslim, termasuk saya, di kampung Jetis - Blora yang relatif masyarakatnya religius waktu itu. Setelah selesai pelajaran sekolah di madrasah diniyah, sekitar habis Ashar, saya masih harus buru-buru menyelesaikan kerjaan tugas-tugas sekolah ( PR, dsb.) kalau ada, disamping bantu beres-beres rumah ( nyiram tanaman, nyalakan lampu petromak dan lampu teplok karena rumahnya belum terpasang aliran listrik, dsb. ). Karena, setiap hari sejak sholat Maghrib sampai kira-kira jam 9 malam, berdatangan anak-anak perempuan dari lingkungan tetangga sekitar yang belajar mengaji kepada Ibu. Alhamdulillah, murid ngaji Ibu lumayan banyak dan gratisan lho. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu amal ibadah almarhumah Ibu dan menjadi teladan bagi anak cucunya, Amien.
Jadi, ruangan didalam rumah sampai kamar tidur saya betul-betul penuh dengan murid ngaji Ibu. Dan, karena saya anak lelaki, maka malu rasanya untuk tetap berada didalam rumah didekat perempuan yang kebanyakan sebaya dengan saya. Mana banyak yang ok ok lagi. Ada yang namanya Mbak Halimah, Mbak Nis, Khatimah, Ida, Umi, Ninik, Rukayah, Didiek, Bekti, Intan, Titik, dsb., jadi ada juga rasa naksir2 sih, wajarlah…. Yang bisa saya lakukan sambil menunggu mereka semuanya selesai mengaji dan pulang kerumah masing-masing, ya tidur-tiduran di beranda depan rumah menerawang ke angkasa luas sambil menikmati semilirnya udara dan sedapnya bau pohon kocai yang saya tanam dan tumbuh subur disekitar beranda itu. Terkadang saya sampai ketiduran di beranda, tahu-tahu sudah dibangunkan oleh Ibu untuk pindah tidur kedalam rumah.
Rutinitas menerawang angkasa luas, memperhatikan kerlap-kerlipnya bintang yang bertaburan ataupun memperhatikan semburat titik meteor yang meluncur lepas membentuk garis tipis sebelum akhirnya menghilang jatuh diufuk, secara tidak sadar lama-lama sayapun menjadi hapal posisi dan pergerakan kelompok-kelompok rasi bintang. Keasyikan memperhatikan alam semesta di langit inilah, sering saya terbawa suasana untuk akhirnya membayangkan sesuatu, seandainya saya bisa ini dan seandainya saya bisa itu……Mimpi dan mimpi yang terkadang membuat saya sering berdialog dengan diri sendiri dan akhirnya tersenyum. Bukan karena nggak waras lho.
Diantara mimpi-mimpi yang pernah saya bayangkan saat itu dan masih teringat, diantaranya adalah andaikan saya bisa membuat alat yang dapat saya pergunakan sebagai pengganti sepatu dan alat itu bisa melawan dan menghilangkan pengaruh daya tarik gravitasi bumi bagi pemakainya. Alangkah menyenangkannya. Kita bisa terbang ke angkasa luas, bebas, bebas dan bebaaas…….Mudah-mudahan diantara anak cucu ada yang bisa merealisir mimpi ini, he he he.
Kebiasaan mimpi-mimpi itulah barangkali yang secara tidak sadar terbawa-bawa sampai saat ini, sehingga sang istripun sering menyebut saya sebagai ‘ Pemimpi ‘. Tetapi, juga barangkali sebagai pembelaan, saya setuju dengan pendapat bahwa tanpa ada pemimpi-pemimpi, maka tidak akan ada perubahan yang signifikan di dunia ini. Sesuatu yang besar selalu diawali dari sebuah mimpi yang besar pula. Dari sebuah mimpi yang besarlah akan muncul motivasi yang besar dan akhirnya dapat melahirkan kekuatan besar yang bisa memobilisir potensi-potensi lain sehingga dapat terealisirnya mimpi tersebut. Dan hal ini ternyata sering terjadi dalam kehidupan ini. Jadi, jangan takut dengan mimpi-mimpi…….. ha ha ha. Negeri kitapun mudah-mudahan bukan sekedar Republik Mimpi lho.
Saya nggak tahu, kenapa sejak kepindahan saya ke SDN 15 Blora, ibu wali kelas seakan tidak menyukai kehadiran saya. Mohon maaf bu guru kalau saya cerita ini, insha Allah sedikitpun nggak ada rasa nggak senang saya kepada ibu. Untuk itu, maka ibu guru saya sebut ‘anonim’ walau saya betul-betul masih ingat nama ibu guruku yang cantik, yang sering membawa puteranya yang masih kecil waktu mengajar di kelas. Kalaupun saya cerita ini, lebih sebagai untaian memori kehidupan saja, tidak lebih dan tidak kurang.
Ada beberapa kejadian yang masih saya ingat, diantaranya saat suatu hari saya berkelahi dengan teman sekelas saya yang memang terkenal suka jahil dan ditakuti oleh teman-teman sekelas . Pada waktu istirahat pelajaran, di halaman sekolah, entah kenapa teman saya ini ( saya lupa namanya ) usil meledek saya dengan kata-kata yang tidak pada tempatnya. Sebenarnya, untuk ukuran rata-rata temen sekelas, saya ini murid yang relatif pendiam. Akan tetapi, karena ledekan teman saya ini sudah saya anggap keterlaluan, maka saya tegur dia dan berakhir dengan perkelahian, yang akhirnya terhenti dengan sendirinya, karena keburu bel pertanda waktu istirahat selesai berbunyi. Sehingga, nggak ada yang menang atau kalah dalam perkelahian ini.
Yang saya merasa kaget dengan sikap ibu wali kelas adalah beliau tanpa menanyakan apa penyebab terjadinya perkelahian kami berdua, disaat kami masuk kelas, beliau langsung marah-marah dengan mukanya cenderung selalu ditujukan ke saya ( sama sekali tidak pernah melihat muka teman kelahi saya yang posisi duduknya di barisan meja belakang). Dan, tiba-tiba : ..gelegaaaarrrr…, penggaris kayu sepanjang satu meter itu sudah dipukulkan dengan keras ke meja saya di barisan paling depan, sampai patah menjadi dua. Untung tidak kena ke tangan atau kepala saya. Rasanya betul-betul mencekam suasananya. Dan, kelihatan sekali bahwa beliau cenderung apriori dengan saya sebagai anak baru di kelas tersebut.
Terus terang yang sampai sekarang saya nggak habis pikir adalah, apa penyebab ibu wali kelas ini terkesan apriori terhadap saya. Pernah saya berpikir jangan-jangan karena aliran politik Bapak saya yang sangat berbeda dengan beliau (kebetulan suami ibu wali kelas saya aktifis partai lain). Karena, saat itu perbedaan politik sangat terasa mengakibatkan terkotak-kotaknya masyarakat, terutama di strata masyarakat kelas bawah. Atau, mungkin beliau under estimate terhadap kemampuan saya yang pindahan dari madrasah ke sekolah negeri. Sampai sekarang saya tidak menemukan jawabannya.
Beberapa kejadian yang saya pikir memberikan nilai plus untuk saya, pun tidak mampu mengubah sikap beliau terhadap saya. Misalnya, kejadian dimana saya berhasil menangkap dan menjinakkan sapi binal yang lari kencang dari pasar hewan (dikenal dengan nama Pasar Pon), menuju kekerumunan kami anak-anak yang sedang istirahat sekolah. Sehingga, saya mendapatkan applause tepuk tangan dari anak-anak yang sudah ketakutan dan memang bisa membahayakan mereka. He he he, hebat juga ya, kok saya berani nangkap sapi gede yang matanya merah itu dan mengelus-elusnya menjadi jinak disaat teman-teman yang lain lari tunggang langgang. Sampai tukang blantiknyapun mengucapkan terima kasih berulangkali kepada saya, sambil napasnya tersenggal-senggal karena habis terus mengikuti arah larinya sapi tersebut.
Nah, peristiwa lain yang menurut anggapan saya keterlaluan adalah tidak dimasukkannya saya dalam daftar siswa yang ikut dalam Persiapan Ujian Akhir ke Dinas P & K Kabupaten. Dahulu, sebelum siswa dapat mengikuti Ujian Akhir, maka terlebih dahulu harus lulus Persiapan Ujian Akhir. Jadi, kalau saya tidak diikut sertakan dalam daftar Persiapan Ujian Akhir, sudah pasti akibatnya saya tidak akan lulus dari SD dan harus mengulang tahun depannya. Beruntung ada teman yang memberitahu saya, kalau saya tidak dimasukkan dalam daftar peserta beberapa minggu sebelum pelaksanaan Persiapan Ujian Akhir tersebut.
Nggak tahu, walaupun saya masih kecil kok juga berani-beraninya lapor langsung ke Ibu Kepala Sekolah yang bernama Ibu Pariati ( ibunya Yudhi Sancoyo, Bupati Blora saat ini ), menceriterakan tentang masalah ini. Dan Ibu Kepala Sekolah ini sangat tanggap dan bijaksana. Diam-diam beliau daftarkan langsung nama saya dalam daftar susulan peserta ujian, tetapi selama 2 minggu sebelum masa ujian itu setiap sore saya diharuskan datang ke rumah beliau untuk di test kemampuan saya mengerjakan berbagai soal dari seluruh pelajaran. Dan Alhamdulillah, setelah akhirnya saya mengikuti Persiapan Ujian Akhir, dan hasil testnya diumumkan, ternyata nilai yang saya peroleh tertinggi dikelas. Jadinya, tidak ada alasan lagi untuk saya tidak diikutkan dalam Ujian Akhir SD. Sekali lagi terima kasih bu Pariati atas budi baiknya.
Ibu Pariati telah mengajarkan kepada saya untuk menghadapi setiap hambatan bukan dengan mudah putus asa, apalagi dengan cara-cara yang destruktif, melainkan dengan cara positif, yaitu kita jadikan sebagai cambuk untuk berusaha dan kerja keras bahwa kita dapat melakukannya tanpa ada rasa amarah dihati. Sementara ibu wali kelas secara tidak langsung telah melatih kepada saya untuk bisa lapang dada menerima kenyataan apapun. Insha Allah semuanya itu ada hikmahnya.
Mungkin karena waktu itu kesibukan Bapak sebagai anggota BPH (Badan Pemerintah Harian) Kabupaten Blora, maka akhirnya memutuskan untuk memindahkan keluarga dari Cepu ke Blora. BPH ini semacam perwakilan dari fraksi2 partai besar saat itu untuk ikut mengelola roda pemerintahan bersama-sama Bupati. Untuk sementara waktu, sambil menunggu kenaikan kelas dari kelas 5 SD ke kelas 6 yang tinggal beberapa bulan lagi, maka saya baru ikut menyusul kemudian untuk pindahan ke Blora.
Terbayang nggak, pindahan ke kota lain dengan lingkungan yang baru itu ternyata secara mental tidak mudah bagi usia anak-anak. Paling tidak saya sangat merasakannya. Karena, sampai beberapa bulan sejak ikut pindah ke Blora, saya berulangkali bermimpi masih sekolah di Cepu ketemu teman-teman yang sudah bertahun-tahun bersama-sama. Dan rasa kangen itu seringkali muncul. Barangkali ini juga salah satu hal yang menjadi penyebab kenakalan saya waktu kecil, he he he cari-cari alasan saja nih.
Saya baru menyadari hal itu, saat baru-baru ini nonton acara Nanny 911 di TV. Dan, diceritakanlah sebuah keluarga yang anak-anaknya nakal. Setelah mendatangkan konsultan keluarga Nanny 911, akhirnya ketahuan bahwa penyebab utamanya adalah karena sang Ayah yang kontraktor bangunan setiap tahun selalu memutuskan untuk pindahan rumah bersama keluarganya untuk mendekati lokasi proyeknya. Dan anak-anaknya merasakan beban psykhologis dengan setiap kepindahan itu, yang kemudian kekesalannya diekspressikan dalam bentuk polah kenakalan anak-anak itu. Akhirnya, setelah sang Ayah memutuskan untuk tidak pindah2 rumah lagi, merekapun dengan mudah berubah menjadi anak2 kecil yang manis.
Beberapa bulan sejak kepindahan kami sekeluarga ke Blora, meletuslah peristiwa G 30 S yang terasa mencekam sampai kedaerah-daerah. Dimana-mana pasukan baret merah RPKAD ( sekarang KOPASSUS ) berjaga-jaga dengan senapannya. Kamipun yang masih siswa SD, dilatih militer yang disebut dengan KOJARSENA ( Korp Pelajar Serba Guna ) .
Ada peristiwa yang tak pernah kulupakan sampai saat ini. Suatu hari Bapak bercerita dengan muka yang sangat sedih memberitahukan kalau Pak Parjo malam itu mau diambil dari penjara bersama-sama tahanan PKI lainnya untuk dieksekusi mati. Saya betul-betul menangis pada saat itu. Karena, walaupun secara politik Bapak berbeda dengan Pak Parjo yang tokoh PKI, tetapi didalam hubungan persahabatan terlihat sangat dekat sekali. Sering kami saling berkunjung secara kekeluargaan. Pak Parjo pun beberapa kali mengajak saya yang masih kecil untuk nonton bioskop bersamanya. Saya masih inget diantaranya film yang saya tonton dengan almarhum adalah film Zorro.
Saya kira kejadian seperti itu terjadi secara merata pada waktu itu sampai di pelosok-pelosok, khususnya di Pulau Jawa. Saya nggak tahu berapa banyak nyawa manusia yang terbunuh saat itu. Mudah-mudahan saja tragedi kemanusiaan karena masalah politik semacam itu tidak akan terjadi lagi di negeri ini. Amien.
Generasi sekarang barangkali nggak terbayang yang namanya bulgur. Konon menurut cerita bulgur itu kalo di Amerika untuk makanan ternak khususnya babi. Butirannya lebih besar sedikit dari beras, berwarna agak kemerah2an, dan kalo dimasak agak lembek-lembek lengket.
Nah, disekitar tahun 1963-an memang kondisi perekonomian Indonesia sedang morat-marit, yang diikuti juga dengan kemarau yang panjang. Sungguh, rakyat sedang amat sangat prihatin. Kalo bisa makan bulgur atau nasi jagung sebagai pengganti nasi beras itu sudah lumayanlah. Di rumah, Alhamdulillah kami masih makan nasi selang seling dengan nasi jagung dan bulgur. Kalo makan nasi jagung biasanya lauknya adalah parutan kelapa yang dikasih sedikit garam.
Akan tetapi dengan mata kepala sendiri, masya Allah saya melihat di kuburan depan rumah tiap hari beberapa orang ditengah terik matahari sedang mencari butiran bonggol rumput teki, satu persatu mereka kumpulkan untuk dimasak sebagai pengganti nasi. Saya nggak tahu bagaimana cara mereka memasak bonggol rumput teki itu dan apa lauk pauk mereka.
Keprihatinan rakyat ini makin bertambah-tambah, dengan adanya wabah tikus yang menyebar dikalangan petani. Saya teringat bagaimana setiap Minggu di Cepu diselenggarakan lomba berhadiah untuk mengejar dan membunuh tikus di sawah-sawah petani (Ika nggak usah mbaca nih). Sebagai bukti keberhasilan membunuh tikus, maka mereka harus memotong ekornya dan menunjukkannya kepada panitia. Jumlah hadiah disesuaikan dengan berapa jumlah potongan ekor tikus yang berhasil dikumpulkan ( kalo Ika ikut pertandingannya pasti kalah deh ha ha ha ). Mungkin dari sinilah asal muasal profesi sampinganku sebagai pemburu tikus yang professional dengan asisten Kasnadi kalo didapur rumah ada tikus, ha ha ha .
Karena kekeringan ada dimana-mana, air bersihpun susah didapatkan. Air kotorpun akhirnya juga dipakai oleh rakyat untuk mandi dan akibatnya mewabahlah penyakit gudiken. Hampir bisa dikatakan setiap orang khususnya anak-anak di Cepu pada waktu itu menderita gudiken (bisul2 berair yang gatal sekali, terutama berada di sela jari2 kaki dan jari2 tangan).
Sungguh situasi saat itu sangat memprihatinkan. Mudah2an jangan sampai terjadi lagi kondisi tersebut berulang kembali di negeri ini. Amien ya robbal alamien.
Malam itu sehabis Maghrib lamat2 saya mendengar pembicaraan Ibu kalo Bapak mau pergi ke Jakarta mewakili DPRD-GR (Gotong Royong) Kabupaten Blora untuk menghadiri pembukaan GANEFO yang akan dibuka oleh Presiden Soekarno. GANEFO (Games for New Emerging Forces) merupakan inisiatif tandingan Bung Karno yang merupakan salah satu tokoh Dunia Ketiga terhadap Olympiade yang merupakan kancah olahraga yang dikuasai oleh Dunia Barat saat itu. Suasana semangat perlawanan terhadap imperialisme Barat saat itu memang sangat luar biasa. Jargon “ONWARD NO RETREAT”, GANYANG IMPERIALISME, RAWE2 RANTAS MALANG2 PUTUNG, dsb. sangat merasuk dalam sanubari rakyat Indonesia, termasuk anak-anak. Luar biasa.
Nah, mendengar kalo Bapak mau menghadiri pembukaan Ganefo yang akan dibuka Bung Karno, maka berhari-hari saya merengek-rengek untuk bisa ikut pergi ke Jakarta. Mungkin karena Bapak tidak tahan lagi akan rengekan saya (boleh tanya ke pak De, bu De bagaimana polah saya kalo sudah merengek, pasti nggak ada yang nandingi he he he), akhirnya Bapak mengizinkan saya untuk ikut ke Jakarta. Tahu nggak, walaupun Bapak Wakil Ketua DPRD-GR Kabupaten Blora, tetapi kita berangkat dari stasiun Cepu naik KA barang diatas gerbong bersama mbok2 penjual ayam beserta ayam2nya didalam gerbong tersebut dan kita duduk diatas jerami. Tetapi rasanya saya nyaman2 saja tidur diatas jerami dengan sekitarnya bercampur bau tahi ayam. Dalam perjalanan itu saya perhatikan Bapak terus menerus berdzikir, sama sekali nggak terganggu dengan ramainya ocehan mbok2 penjual ayam dikiri kanan. Ha ha ha, Wakil Ketua DPRD dahulu nggak kayak sekarang lah.
Di Jakarta, kami menginap di Wisma PHI Jalan Kwitang, juga tidur diatas tikar. Nah, pada waktu pembukaan GANEFO itu di Istora Senayan (yang baru selesai dibangun), kami semua terkesima mendengarkan pidato yang berapi-api dari Bung Karno selama kurang lebih 2 jam yang diakhiri dengan aplause berdiri para hadirin sambil bertepuk tangan membahana. Suasana semangat yang benar2 tulus tanpa rekayasa seperti inilah rasanya yang tidak pernah saya ketemukan lagi saat ini, nggak tahu kenapa. Sedangkan menurut saya, semangat yang membara sangat diperlukan didalam kita berupaya membangun negeri ini dari keterpurukan. Sudah barang tentu suri tauladan pemimpin bangsa sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat tersebut. Selain menghadiri pembukaan GANEFO, Bapak sempat mengajak saya untuk melihat-lihat Musium Gajah di Jalan Medan Merdeka Barat serta ke Pasar Senen yang waktu itu adalah pusatnya kota Jakarta.
Ada cerita dibalik cerita dalam perjalanan ini, dimana kami menyempatkan diri untuk semalam menengok bulik Hafiz (pak lik Hafiz sedang di Amerika mengambil study untuk S2nya) di Jalan Hang Lekir-Kebayoran Baru. Jarak dari Kwitang ke Hang Lekir saat itu terasa jauuuuh sekali naik opelet, dan Kebayoran Baru masih daerah kampung baru dipinggiran Jakarta. Pada saat bermalam di bulik Hafiz itulah nggak tahunya saya terbangun ditengah malam dan baru tersadar kalo saya ngompol. Buru2 karena perasaan malu, tengah malam itu juga bekas ompol saya tutupin sajadah supaya nggak ketahuan, ha ha ha ha. Dan waduh, waktu saya terbangun nggak tahunya Bapak sedang shalat Shubuh diteruskan dengan wirid diatas sajadah tersebut. Ma’aaaaaaappppppp, dasar si Jambal. he he he
Bu Supir memang judes banget. Rumahnya tepat disebelah kiri rumah, disewa dari Pak De Syadzili Usman. Sejak kepindahan mereka dirumah sebelah, Bu Supir jarang bergaul dengan tetangga-tetangga sekitarnya. Jangankan bersilaturrahmi dengan tetangga, sayapun kalo sedang duduk2 diberanda rumah dan kebetulan bu Supir sedang menyapu beranda rumahnya juga, memperhatikan muka bu Supir nggak pernah ada senyum sama sekali. Mending kalo wajahnya cantik, wong hidungnya rada pesek dengan kulit agak hitam. Kami nggak tahu nama bu Supir, kami menyebutnya bu Supir karena suaminya sopir truk tangki minyak tanah, mereka berdua tidak memiliki anak.
Setelah berhari-hari tidak kelihatan batang hidungnya, mungkin karena sedang menyopiri truk tangkinya keluar kota, maka sangat mudah untuk menandai kehadiran dan keberadaan pak Sopir dirumah tersebut. Saya bisa memastikan paling tidak dari dalam rumah tersebut akan terdengar suara piring pecah karena dilempar oleh bu Sopir. Yang paling sering bu Sopir akan mengejar-ngejar pak Sopir yang berlarian keluar rumah, sambil mengacungkan batang sapunya, begitu pak Sopir terkejar buk buk buk dipukulinya pak Sopir dengan tangkai batang sapu tersebut. Dan masya Allah, dari mulut bu Supir keluar segala macam cacian dari segala isi kebun binatang sampai hal2 yang sangat tidak pantas didengar oleh tetangga terutama anak-anak. Yang saya tidak pernah mengerti, pak Sopir terlihat tidak pernah melakukan perlawanan terhadap bu Sopir dan tetap setia untuk balik lagi kerumah tersebut dengan santainya.
Kira-kira bu Sopir tinggal menyewa dirumah tersebur sekitar 4 tahun dan rasanya tidak satupun dari tetangganya yang nyaman dengan kehadirannya tinggal di sekitar kami. Dan rasanya semua merasa gembira dengan kepindahan bu Sopir. Setelah itu kami nggak tahu kemana mereka pindah rumah. Dan alhamdulillah penggantinya yang menyewa rumah pak De tersebut bu Maryam dari Madura yang 180 derajat berbeda dengan bu Sopir. Bu Maryam orangnya ramah, suka senyum dan kalo baru datang dari luar kota selalu bawa oleh2 untuk para tetangganya. Setahu saya bu Maryam adalah pedagang pakaian.
Walaupun bu Maryam tinggal menyewa dirumah tersebut tidak terlalu lama, mungkin hanya sekitar satu setengah tahun, akan tetapi pada waktu kepindahannya kami merasakan kesedihan yang mendalam, terkenang akan sikapnya yang sangat kekeluargaan. Saya dengar beliau kembali kekampungnya di Madura.
Maka, perilaku kita bertetangga sangat besar pengaruhnya bagi komunitas sekitar. Mudah-2an diantara kita dijauhkan dari sikap seperti bu Sopir yang aneh tesebut.
Saya nggak tahu bagaimana asal muasalnya, tetapi tahu2 Bapak mempunyai sahabat dan sudah seperti saudara saja warga baru di Cepu keturunan Arab bernama Yehama Alhadar. Beliau ini pamannya Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo saat ini. Isterinya, kami memanggilnya Ummi. Saat pertama kali tinggal di Cepu, keluarga Yehama tinggal menyewa rumah di daerah Nglajo, sebelum akhirnya pindah ke daerah Balun Saudagaran (tempat saudagar2 Cepu jaman dahulu tinggal, didekat Sungai Bengawan Solo). Beliau pedagang kayu jati, dengar2 memasok untuk pembakaran pengolahan tebu di pabrik Madukismo-Yogyakarta.
Kalo ibuku sedang berkunjung kerumah keluarga Yehama, sementara beliau2 berbincang-bincang, mulutku nggak pernah berhenti-hentinya mencicipi (mencicipi kok terus menerus, ha ha ha) cheese-stick yang saat itu merupakan makanan sangat sangat sangat istimewa nggak ada duanya di Cepu. Makin lama beliau2 ngobrol, makin banyak saja kue cheese-stick yang saya habiskan.
Suatu hari kami sekeluarga mendapatkan hantaran istimewa dari keluarga Yehama tersebut berupa satu baskom besar nasi kabulai. Percaya nggak, karena saking banyaknya minyak samin dalam nasi kabulai tersebut, maka diperaslah nasi kabulai tersebut dan ditampung minyak saminnya, karena kami belum terbiasa makan dengan minyak samin yang melimpah. Selanjutnya, kami nikmati nasi kabulai tersebut bersama-sama. Alhamdulillah.
Nah, dari sinilah asal muasalnya, Ibu yang memang jago masak memasak mengembangkan nasi kabulai khas Ibu Dahlan yang nggak banyak minyak saminnya. Sejak saat itulah, disetiap hari lebaran Iedul Adha maupun Iedul Fitri, pasti Ibuku menyajikan nasi kabulai yang masih kebul-kebul dan alamaak lezatnyaaa untuk hidangan utama setelah Sholat Ied.
Kita bisa lihat disini, bahwa hubungan antar manusia ternyata akan melahirkan dan menumbuhkan idea serta kreatifitas baru. Maka, banyaklah menyerap dan memperhatikan lingkungan sekeliling kita berada, kemudian renungkan dan pikirkan dari situ idea serta kreatifitas apa yang kita bisa lakukan. Saya yakin, akan muncul innovasi baru yang kadang-kadang tidak kita duga sebelumnya. Insha Allah.
Diantara teman sebayaku yang namanya Fauzan biarpun sesusia tetapi badannya lebih kecil dari saya. Adiknya namanya Muhtar, anaknya lik Dul Mu’in. Fauzan walau badannya kecil tetapi kalo lari kencang sekali.
Suatu saat saya mendengar kalo Fauzan dan adiknya Muhtar mau disunat. Wah, gawat nih, saya yang badannya lebih besar belum juga disunat. Bisa-bisa nanti jadi bahan olok-olokan teman-teman. Karena, kalo diantara kami teman-teman bermain yang sudah besar ternyata belum disunat, biasanya akan jadi bahan olok-olokan. Maka, mendengar bahwa Fauzan dan Muhtar mau disunat, walaupun sebenarnya ada juga rasa takut sih, saya merengek-rengek ke Ibu minta supaya cepat disunat juga.
Nah, disaat liburan pun saya disunat. Yang nyunat namanya Pak Dirjo, tukang supit (dinamakan tukang supit barangkali karena alat utamanya pake penjepit) paling terkenal di Cepu saat itu yang rumahnya dijalan menuju Rumah Sakit. Pada waktu disunat dengan diringi rebana dan bacaan shalawat, Pak De Had (kakaknya Bapak) memangku sambil menutup mata saya, tahu2 titit dijepit dan cresssss sudah selesai disunat, alhamdulillah ternyata tidak begitu sakit. Baru terasa sakitnya adalah dua hari kemudian, disaat pertama kali perbannya mau diganti karena lengket dengan bekas luka. Walaupun sudah dipakai air hangat, tetapi tetap saja sakit dan sayapun teriak-teriak huuuuaaaaa….huuuuaaaaa……..
Selama kurang lebih satu minggu, saya tidak bisa ikut bermain dengan teman2, hanya jalan pelan2 kesana kesini pake sarung yang di bagian depannya diganjal dengan serpihan sabut kelapa, biar sarungnya tidak menyenggol bekas luka sunatan. Wah, tersiksa juga. Apalagi kalo teman2 menggoda, “wah cah wadon, nggak wani balapan mlayu…” ( wah anak perempuan nih, nggak berani cepat2an lari….). Tetapi saya biarin saja godaan itu.
Waktu saya sudah sembuh, ketika saya dan teman2 sedang bersama2 mandi di langgar, maka Mufrodi kakaknya Juli ngomong dengan nada serius : ” Min,min, sini coba kita lihat pak Dirjo nyunatnya bener nggak?”. Yang lainnya pun ikut mengerubungi saya sambil memperhatikan bekas sunatan saya. Selanjutnya Mufrodipun bicara : “Wah gawat nih, Pak Dirjo nyunatnya terlalu sedikit, ini harus disunat lagi…”. Yang lainnya pun ikut mempertegas apa yang telah disampaikan oleh Mufrodi. Sayapun kebingungan dan hampir saja menangis. Teringat bagaimana sakitnya waktu dibuka perbannya pertama kali.
Berhari-hari saya resah dan ketakutan membayangkan disunat lagi oleh Pak Supit Dirjo, tidak berani bicara ke Ibu, malu nanti kalo dilihat tititnya. Karena, biasanya setelah kita disunat menjadi malu kalo sampai tititnya terlihat sama perempuan, termasuk Ibu, sementara Bapak sedang di Blora. Akhirnya, beberapa hari kemudian setelah Bapak datang sayapun memberanikan diri untuk bertanya ke Bapak. Bapak pun begitu saya tanya langsung tersenyum dan bilang kalo saya dibohongi Mufrodi dan teman2. Wah, payah nih, “Awas kamu, sampai berhari2 saya bingung dan resah nih”. Ha..ha..ha…. Mungkin kalo yang bicara bukan Mufrodi saya nggak akan mudah tertipu. Mufrodi type orangnya walaupun paling besar diantara kami, tetapi dia tenang, kalem dan ngemong. Jadinya tertipu deh saya. Yah, pelajaran hidup sesekali tertipu nggak apa2 asal jangan berulang kali, itu namanya bodo.
Recent Comments